
Jakarta – PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat kolaborasi strategis untuk pengembangan industri kelapa sawit nasional melalui riset dan inovasi berkelanjutan. Kedua lembaga menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) tentang riset dan inovasi untuk penguatan sektor hulu dan hilir industri kelapa sawit di Menara Agrinas Palma, Jakarta, Rabu, 11 Maret 2026.
MoU bertanda tangan Direktur Utama PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) Jenderal TNI (Purn.) Agus Sutomo, S.E. dan Kepala BRIN Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si menjadi langkah strategis untuk memperkuat pemanfaatan riset dan inovasi dalam meningkatkan produktivitas, nilai tambah, serta keberlanjutan industri sawit nasional.
Hadir dari jajaran PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) Wakil Direktur Utama Kusdi Sastro Kidjan, Komisaris Utama Letjen TNI (Purn.) Wisnoe Prasetja Boedi, Direktur Riset, Pengembangan dan Keberlanjutan Zulham Syakwan Koto, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Mohammad Wais Fansuri, Direktur SDM dan Umum Memed Kosasih Setia Putra, serta Direktur Konsultan Konstruksi Gagah Guntur Aribowo.

Hadir pula jajaran pimpinan senior Agrinas Palma Nusantara, yakni SEVP Hukum dan Kepatuhan Brigjen TNI (Purn.) I Nyoman Suparta, General Manajer Riset dan Teknologi Industri Hulu Nur Amalia Agus, General Manager Riset dan Teknologi Industri Hilir dan Tambahan Kolonel Ckm (Purn.) Wahyu Saptonohadi, serta General Manager IT dan GIS Hardiyanto Ramadhan.
Adapun dari BRIN hadir Wakil Kepala BRIN Prof. Dr. Ir. Amarulla Octavian, S.T., M.Sc., DESD., ASEAN Eng., Sekretaris Utama BRIN Rr. Nur Tri Aries Suestiningtyas, S.IP., M.A., Deputi Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi Dr. R. Hendrian, M.Sc. yang diwakili oleh Direktur Pemanfaatan Riset dan Inovasi pada Industri Dr. Dipl. Ing. Mulyadi Sinung Harjono, M.T., Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan Puji Lestari, S.P., M.Si., Ph.D., dan Kepala Biro Komunikasi Publik, Umum, dan Kesekretariatan Yudho Baskoro, S.Sos., M.Si., M.P.P.

Perkuat Produktivitas Sawit Nasional
Wakil Direktur Utama Agrinas Palma Nusantara Kusdi Sastro Kidjan yang dalam kesempatan tersebut mewakili, dalam memberikan sambutan, menekankan bahwa riset menjadi kunci untuk meningkatkan produktivitas sawit Indonesia.
Ia menjelaskan bahwa saat ini, Indonesia memiliki perkebunan sawit terluas di dunia. Namun, keunggulan tersebut perlu diiringi dengan produktivitas yang tinggi agar mampu memberikan nilai ekonomi yang maksimal.
“Indonesia memiliki perkebunan sawit terluas di dunia. Tetapi kita tidak cukup hanya menjadi yang terluas, kita juga harus menjadi yang terbesar dari sisi produktivitas,” kata Kusdi.
Guna mendorong produktivitas perlu dukungan riset. Wadirut mencontohkan negeri jiran, Malaysia, yang memiliki lembaga riset khusus kelapa sawit, Malaysian Palm Oil Board (MPOB), yang secara konsisten melakukan penelitian dari aspek hulu hingga hilir. Dukungan riset yang kuat membuat produktivitas sawit negara tersebut lebih tinggi.
Menurut Kusdi, melalui kerja sama dengan BRIN, Agrinas berharap Indonesia dapat memperkuat ekosistem riset sawit yang terintegrasi, termasuk untuk mendukung pengembangan perkebunan di berbagai wilayah, seperti Papua Selatan.
Saat ini Agrinas Palma Nusantara mendapat lahan sawit seluas 1,7 juta hektare, dimana 740.000 hektare diantaranya terdapat pohon sawit, dengan potensi pengembangan yang masih sangat besar.
“Harapannya MoU ini tidak berhenti di dokumen saja, tetapi dilanjutkan dengan kerja sama teknis yang memberikan manfaat nyata bagi peningkatan produksi dan pengelolaan sawit nasional,” ujarnya.

Dorong Inovasi dari Hulu hingga Hilir
Kepala BRIN Prof. Dr. Arif Satria menyatakan lembaganya siap mendukung penguatan riset dan pengembangan di sektor sawit sebagai salah satu komoditas strategis nasional.
Menurut Prof. Arif, BRIN tidak hanya menghasilkan inovasi teknologi, tetapi juga menghasilkan rekomendasi kebijakan yang dapat mendukung pengembangan industri.
“BRIN merupakan instrumen penting untuk memperkuat riset dan pengembangan bagi pemerintah, BUMN, maupun dunia usaha,” ujarnya.
Prof. Arif Satria menekankan bahwa riset sawit perlu diperkuat dari sisi hulu hingga hilir. Di sektor hulu, riset diarahkan pada pengembangan bibit unggul, deteksi kualitas benih sejak dini, serta penanganan penyakit tanaman yang dapat menurunkan produktivitas.
BRIN juga mengembangkan teknologi berbasis genomik dan bioinformatika untuk meningkatkan kualitas bibit sawit. Teknologi ini memungkinkan identifikasi potensi genetik tanaman sejak tahap awal sehingga petani dapat menanam bibit dengan produktivitas tinggi.
Selain itu, BRIN juga mengembangkan pendekatan precision agriculture atau pertanian presisi. Melalui teknologi sensor dan pemetaan digital, kebutuhan pupuk dan nutrisi tanaman dapat diukur secara lebih akurat di setiap titik lahan.
Pendekatan ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk sekaligus mengurangi dampak lingkungan.
Inovasi Produk Turunan Sawit
Di sektor hilir, riset juga diarahkan pada pengembangan berbagai produk turunan sawit bernilai tambah tinggi.
Selain untuk energi terbarukan seperti biofuel, limbah sawit memiliki potensi besar untuk diolah menjadi berbagai produk industri maupun pangan.
Prof. Arif menyebutkan salah satu potensi inovasi adalah produksi gula industri dari limbah sawit yang dapat menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan gula nasional.
Selain itu, limbah sawit juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak serta mendukung sistem integrasi antara perkebunan sawit dan peternakan.
“Dengan riset yang kuat, sawit tidak hanya menjadi komoditas ekspor, tetapi juga sumber inovasi untuk energi, pangan, dan berbagai produk industri,” kata Prof. Arif.
Perkuat Kemandirian Energi dan Pangan

Kerja sama antara BRIN dan Agrinas Palma Nusantara ini diharapkan dapat memperkuat kontribusi sektor sawit dalam mendukung ketahanan energi dan pangan nasional.
Prof. Arif menilai dinamika geopolitik global dan krisis energi menunjukkan pentingnya kemandirian energi berbasis sumber daya domestik.
“Salah satu hikmah dari berbagai krisis global adalah kita harus semakin mandiri, baik dalam pangan maupun energi. Sawit memiliki potensi besar untuk mendukung hal tersebut,” ujarnya.
Kerja sama ini juga membuka peluang pengembangan teknologi baru, hilirisasi hasil penelitian, hingga komersialisasi inovasi yang dihasilkan bersama.
Nota kesepahaman ini berlaku selama lima tahun sejak tanggal penandatanganan dan dapat diperpanjang berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak.
Dalam implementasinya, kerja sama tersebut akan ditindaklanjuti melalui perjanjian kerja sama teknis yang mengatur program riset konkret dan pelaksanaan kegiatan bersama.
Melalui kolaborasi ini, BRIN dan PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) diharapkan dapat memperkuat ekosistem riset nasional sekaligus mendorong transformasi industri sawit Indonesia menuju praktik yang lebih inovatif, produktif, dan berkelanjutan.
Badan Riset dan lnovasi Nasional (BRIN) adalah lembaga pemerintah yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden dalam menyelenggarakan penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan, serta invensi dan inovasi, penyelenggaraan ketenaganukliran, dan penyelenggaraan keantariksaan yang terintegrasi.
PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) adalah badan usaha milik negara yang berperan strategis dalam pengelolaan dan pengembangan industri kelapa sawit nasional secara berkelanjutan. Sebagai pengemban amanah Asta Cita Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat ketahanan energi nasional, Agrinas Palma Nusantara hadir untuk memperbaiki tata kelola sektor sawit Indonesia melalui pengelolaan lahan yang produktif, transparan, dan berorientasi pada kesejahteraan rakyat.
***
Divisi Komunikasi dan Hubungan Kelembagaan
Dede Kurniawan, Laban Eben Ezer, Natalia Santi
Devano Christian, M. Revanza Refikasah, Nabila Afianisa, Dinda Syifa Firliani
Chief Editor: Renaldi Zein, MSi










